Featured Post

Recommended

Review Film Harusnya Horror: Harusnya Lucu Atau Horror ?

  Belakangan ini genre film horror komedi begitu banyak yang muncul di layar lebar bioskop indonesia, mulai dari jenis film remake film dari...

Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

 

Review Colony

Kalau bicara soal film atau series Korea, ada beberapa aktor yang memang menurut saya selalu menarik untuk diikuti. Salah satunya adalah Ji Chang-wook.

Saya sendiri mulai menyukai Ji Chang-wook sejak menonton drama The K2. Dari sana saya mulai mengikuti beberapa film dan drama yang dia mainkan. Menurut saya salah satu hal yang membuat Ji Chang-wook menarik adalah kemampuan aktingnya yang cukup fleksibel, terutama ketika harus memainkan karakter yang berhubungan dengan action.

Nah, kali ini saya kembali menemukan salah satu film yang dibintangi oleh Ji Chang-wook yaitu Colony.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Colony langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Dan kesan pertama saya ketika film ini mulai berjalan adalah...

“Wah, ini kok auranya mirip Train to Busan?”

Mulai dari tone warna, suasana tempat, sampai bagaimana kamera mengambil gambar ketika suasana mulai mencekam, saya cukup sering teringat dengan film Train to Busan.

Apalagi film ini memang masih berada di genre zombie dan survival.

Jadi sejak awal saya sudah memiliki ekspektasi yang cukup tinggi.

Bukan hanya karena Ji Chang-wook, tetapi juga karena film ini mencoba memberikan sesuatu yang berbeda dari film zombie pada umumnya.

Pertanyaannya, apakah akhirnya film ini bisa memberikan pengalaman yang menarik?

Sinopsis Singkat: Colony

Cerita bermula dari seorang profesor bernama Se Jeong yang menghadiri sebuah konferensi bioteknologi.

Namun konferensi tersebut berubah menjadi sebuah bencana ketika sebuah virus yang mengalami mutasi dengan sangat cepat dilepaskan.

Dalam waktu singkat wabah mulai menyebar dan orang-orang yang terinfeksi mulai mengalami perubahan.

Situasi menjadi semakin kacau ketika pihak berwenang akhirnya memblokir seluruh fasilitas untuk mencegah penyebaran wabah.

Se Jeong yang terjebak di dalam situasi tersebut kemudian harus berusaha bertahan hidup sekaligus mencari cara untuk menghentikan wabah sebelum semuanya terlambat.

Dan dari sinilah perjuangan untuk bertahan hidup dimulai.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Kesan Pertama: Auranya Mengingatkan Saya Dengan Train to Busan

Seperti yang saya bilang sebelumnya, hal pertama yang saya rasakan ketika menonton film ini adalah suasananya.

Tone warna dan pengambilan gambarnya membuat saya beberapa kali teringat dengan Train to Busan.

Bukan berarti film ini sama persis, tetapi ada aura yang menurut saya cukup mirip.

Terutama ketika kamera mulai memperlihatkan suasana tempat yang sudah kacau dan karakter mulai berusaha mencari jalan keluar.

Ada rasa sempit, terjebak dan tidak tahu apa yang akan muncul setelah ini.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup penting dalam film zombie.

Karena film zombie tidak hanya membutuhkan zombie yang bagus, tetapi juga membutuhkan suasana yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama karakter di dalam film.

Saya sendiri menonton film ini bersama pasangan, jadi suasana mencekamnya lumayan terasa.

Beberapa kali kami benar-benar menunggu apakah setelah pintu dibuka akan muncul zombie atau tidak.

Zombie Di Film Ini Tidak Seperti Zombie Pada Umumnya

Nah ini justru bagian yang paling saya sukai dari Colony.

Kalau biasanya zombie hanya memiliki satu tujuan yaitu mengejar manusia, menggigit, kemudian membuat orang lain ikut terinfeksi, di film ini konsepnya menurut saya jauh lebih menarik.

Zombie yang ada di Colony seperti terus mengalami perkembangan.

Mereka bukan hanya sekedar manusia yang terinfeksi virus.

Kemampuan mereka bisa berkembang dari waktu ke waktu.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai tingkat kecerdasan.

Dan menurut saya ini memberikan sesuatu yang cukup berbeda.

Awalnya saya berpikir, “oh ini zombie biasa.”

Tapi semakin film berjalan, saya mulai menyadari kalau zombie yang ada di film ini ternyata memiliki kemampuan yang berbeda.

Dan semakin lama justru semakin kuat.

Menurut saya ini salah satu alasan kenapa filmnya cukup menarik untuk diikuti sampai akhir.

Karena kita sebagai penonton tidak pernah benar-benar tahu kemampuan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh zombie tersebut.

Saya Suka Ada Penjelasan Tentang Virusnya

Salah satu hal yang sering membuat saya kurang suka dengan film zombie adalah ketika virusnya hanya dijadikan alasan supaya orang-orang berubah menjadi zombie.

Sudah.

Tidak dijelaskan lagi.

Tapi di Colony saya merasa penjelasan mengenai virus dan perubahan yang terjadi masih cukup mendapatkan perhatian.

Ada semacam latar belakang dan eksposisi mengenai bagaimana wabah tersebut bisa berkembang.

Menurut saya ini membuat film terasa lebih seperti film zombie dengan teknologi tinggi daripada sekedar film zombie biasa.

Ada unsur biologi, eksperimen, mutasi dan bagaimana virus tersebut memengaruhi manusia.

Jadi selain mendapatkan adegan action, saya juga mendapatkan sedikit teori mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ji Chang-wook Menurut Saya Tetap Menjadi Daya Tarik Utama

Tentu saja saya tidak bisa melewatkan bagian ini.

Saya memang menonton film ini salah satu alasan utamanya karena ada Ji Chang-wook.

Sejak The K2, saya memang cukup suka dengan kemampuan aktingnya.

Dan di Colony menurut saya aktingnya tetap bagus.

Walaupun saya tidak akan mengatakan karakter di film ini merupakan karakter terbaik yang pernah dia mainkan, tetapi saya tetap bisa merasakan kemampuan aktingnya ketika situasi mulai berubah menjadi semakin kacau.

Terutama ketika karakter harus menghadapi kondisi yang tidak bisa diprediksi.

Dan menurut saya chemistry antar pemain juga cukup bagus.

Tidak terasa seperti semua karakter hanya dimasukkan untuk menjadi korban zombie.

Karakter Perempuan Utamanya Juga Tidak Lemah

Salah satu hal yang saya cukup suka adalah karakter perempuan utama di film ini tidak dibuat sebagai karakter yang hanya menunggu diselamatkan.

Justru pengetahuan yang dia miliki sebagai seorang profesor biologi manusia dan hewan menjadi salah satu senjata untuk menghadapi zombie.

Jadi dia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik.

Dia menggunakan pengetahuan yang dia miliki untuk memahami apa yang terjadi.

Menurut saya ini keputusan yang cukup bagus.

Karena ketika melawan zombie yang semakin kuat, akan terasa aneh kalau manusia hanya mengandalkan senjata dan kekuatan fisik.

Di film ini pengetahuan menjadi salah satu bagian penting dalam usaha mereka bertahan hidup.

Zombie-nya Justru Terlalu Kuat

Nah, ini masuk ke bagian yang menurut saya menjadi kekurangan.

Saya suka konsep zombie yang berbeda.

Saya suka mereka berkembang.

Saya suka kemampuan mereka.

Tapi di beberapa bagian menurut saya zombie dan antagonisnya terasa terlalu kuat.

Sampai saya beberapa kali berpikir,

“Ini manusia mau ngelawan pakai apa?”

Karena semakin lama kemampuan zombie semakin berkembang, sementara karakter manusia terasa cukup terbatas.

Menurut saya akan lebih menarik kalau kekuatan antara manusia dan zombie dibuat sedikit lebih seimbang.

Bukan berarti zombienya harus lemah, tetapi harus ada kesempatan bagi karakter manusia untuk melakukan perlawanan dengan cara yang lebih masuk akal.

Kurang Karakter Pendukung Yang Benar-Benar Kuat

Kalau dibandingkan dengan Train to Busan, menurut saya Colony masih kurang dalam masalah karakter pendukung.

Train to Busan menurut saya memiliki beberapa karakter yang benar-benar terasa kuat dan berkesan.

Ada karakter yang ketika zombie datang tidak hanya menjadi korban, tetapi justru ikut menghadapi zombie dengan cara mereka masing-masing.

Di Colony saya merasa bagian ini masih kurang.

Karakter utamanya memang cukup menarik, tapi saya merasa belum mendapatkan karakter pendukung yang benar-benar bisa membuat saya berkata,

“Nah ini karakter keren.”

Dan ketika karakter pendukungnya tidak terlalu kuat, hubungan emosional dengan karakter-karakter tersebut juga menurut saya tidak sekuat film zombie Korea lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Colony

Kelebihan

1. Zombie memiliki konsep yang berbeda

Menurut saya ini adalah kelebihan terbesar film.

Zombie tidak hanya menjadi manusia yang terinfeksi, tetapi memiliki perkembangan kemampuan dari waktu ke waktu.

2. Cerita tidak terasa seperti film zombie biasa

Walaupun premisnya tetap tentang virus dan wabah, film memberikan tambahan unsur bioteknologi, mutasi dan eksperimen.

3. Visual dan tone warna sangat mendukung suasana

Tone warna yang digunakan membuat film terasa gelap dan mencekam.

Buat saya pribadi bahkan beberapa kali terasa seperti melihat kembali aura Train to Busan.

4. Akting para pemain bagus

Terutama Ji Chang-wook yang menurut saya masih menjadi salah satu daya tarik utama film ini.

5. Action cukup banyak

Film ini tidak hanya berisi dialog dan penjelasan tentang virus.

Ada cukup banyak adegan kejar-kejaran, pertarungan dan survival yang membuat tempo film tetap terasa cepat.

Kekurangan

1. Karakter pendukung kurang kuat

Saya berharap ada beberapa karakter pendukung yang lebih berkesan seperti yang bisa kita temukan di film zombie Korea lainnya.

2. Zombie terlalu kuat

Ini sebenarnya sekaligus menjadi kelebihan dan kekurangan.

Konsep zombie yang kuat memang menarik, tetapi di beberapa bagian terasa terlalu overpower.

3. Beberapa bagian terasa terlalu cepat

Karena film ingin memasukkan unsur teori, action dan perkembangan zombie sekaligus, ada beberapa bagian yang menurut saya terasa cukup cepat.

Saya masih bisa mengikuti ceritanya, tapi ada beberapa momen dimana saya berharap film memberikan waktu sedikit lebih banyak untuk menjelaskan situasinya.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Colony, menurut saya film ini adalah salah satu film zombie yang cukup menarik untuk dicoba.

Saya sendiri awalnya menonton karena Ji Chang-wook, tetapi ternyata setelah film berjalan saya justru lebih tertarik dengan konsep zombie dan bagaimana virus tersebut bisa berkembang.

Menurut saya konsep zombie yang memiliki kemampuan berbeda dari biasanya menjadi daya tarik utama film ini.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai kecerdasan yang semakin berkembang membuat saya penasaran sebenarnya akan seperti apa kemampuan mereka selanjutnya.

Dan yang paling penting, film ini tidak hanya mengandalkan zombie untuk membuat penonton takut.

Visual, tone warna, suara dan suasana film benar-benar membantu membuat rasa mencekamnya terasa.

Apalagi saya menontonnya bersama pasangan.

Menurut saya ini justru salah satu film yang cukup cocok untuk ditonton bareng pasangan di rumah. Lampu dimatikan, malam hari, kemudian nonton film zombie seperti ini... suasananya dapat banget.

Beberapa kali saya dan pasangan sama-sama menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kalau kalian adalah penggemar film zombie, survival atau sci-fi, menurut saya film ini bisa kalian masukkan ke daftar tontonan.

Terutama kalau kalian suka film zombie yang tidak hanya sekedar,

“digigit → jadi zombie → kejar manusia.”

Karena Colony mencoba memberikan sesuatu yang lebih dari itu.

Untuk saya sendiri, Ji Chang-wook masih menjadi salah satu alasan utama kenapa film ini menarik untuk ditonton, tetapi setelah melihat keseluruhan film, saya bisa bilang bahwa film ini memang cukup layak untuk mendapatkan perhatian.

Jadi kalau ditanya apakah saya merekomendasikan Colony?

Iya, saya rekomendasikan.

Apalagi kalau ditonton bareng pasangan, menurut saya malah lebih seru karena suasana mencekam dan menegangkannya bisa dirasakan bareng-bareng.

Buat saya pribadi, ini bukan film zombie yang sempurna, masih ada kekurangan dari karakter pendukung dan beberapa bagian yang terasa terlalu kuat untuk zombienya.

Tapi secara keseluruhan?

Film zombie berteknologi tinggi yang cukup menarik dan berbeda dari ekspektasi saya.

Kalau kalian punya Netflix dan sedang mencari tontonan zombie untuk malam hari...

boleh banget coba Colony.

Walaupun di IMDB ratingnya hanya 6.5/10 tapi rating ini tidak menggambarkan kualitas film ini.

Review Plankton: The Movie — Melihat Bikini Bottom Dari Sudut Pandang Plankton

Review Plankton: The Movie — Melihat Bikini Bottom Dari Sudut Pandang Plankton

Review Plankton: The Movie

Kalau biasanya saya menonton film di NSC Kudus, kali ini ada sedikit yang berbeda karena kebetulan saya sedang liburan ke Jogja. Sembari liburan tentunya saya coba untuk mencari hiburan lain salah satunya adalah menonton film di bioskop, dan kali ini film yang saya pilih adalah Plankton: The Movie yang saya tonton di XXI Pakuan Mall.

Kalau dibandingkan dengan NSC Kudus, suasana di XXI Pakuan Mall ini jelas jauh lebih rame. Apalagi ketika saya masuk ke studio untuk menonton film ini, saya bisa melihat banyak sekali anak-anak bersama keluarganya yang memang datang untuk menonton film Plankton. Yahh namanya juga film SpongeBob, target penontonnya memang cukup luas, dari anak-anak sampai orang dewasa yang mungkin masa kecilnya juga ditemani oleh SpongeBob dan teman-temannya.

Tapi sebenarnya ekspetasi saya ketika masuk ke studio bukan berharap mendapatkan film yang luar biasa atau cerita yang sangat kompleks. Saya justru ingin merasakan sesuatu yang selama ini cukup sering terlintas di pikiran saya ketika menonton SpongeBob.

Bagaimana kalau kita melihat Bikini Bottom dari POV karakter lain?

Karena selama ini kalau kita menonton SpongeBob, hampir semuanya selalu berpusat kepada SpongeBob. Padahal di Bikini Bottom sendiri ada banyak sekali karakter yang sebenarnya menarik untuk diceritakan. Salah satunya tentu saja adalah Plankton.

Saya dulu bisa dibilang adalah penggemar berat SpongeBob. Penekanan pada kata “dulu” karena semakin saya dewasa, semakin jarang saya mengikuti serialnya. Dulu hampir setiap episode saya tonton, bahkan sampai hafal beberapa episode dan karakter yang muncul di dalamnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai merasa SpongeBob sudah tidak seperti dulu. Bukan berarti jelek, tapi menurut saya ada sesuatu yang hilang. Apalagi setelah muncul beberapa spin-off seperti Kamp Koral dan The Patrick Star Show, saya semakin merasa kalau serial utama SpongeBob sudah tidak lagi memberikan sesuatu yang menurut saya unik seperti dulu.

Saya bahkan sempat berhenti mengikuti serialnya sekitar tahun 2021.

Karena itulah ketika melihat ada film yang berfokus kepada Plankton, saya cukup tertarik. Bukan karena saya terlalu berharap film ini akan sebagus film SpongeBob pertama tahun 2004, tetapi karena saya ingin melihat bagaimana rasanya kalau cerita SpongeBob dibuat dari sudut pandang karakter lain.

Nah, apakah akhirnya film ini bisa memberikan sesuatu yang berbeda?

Sinopsis Singkat: Plankton: The Movie

Cerita bermula ketika Plankton kembali gagal mencuri resep rahasia Krabby Patty dari Krusty Krab.

Namun ketika pulang ke Chum Bucket, Plankton justru mendapatkan kejutan. Karen, istrinya, ternyata telah melakukan renovasi besar-besaran terhadap Chum Bucket dan membuat restoran tersebut menjadi ramai pengunjung tanpa harus mencuri resep Krabby Patty.

Harusnya Plankton senang dong?

Ternyata tidak.

Plankton justru merasa kalau apa yang dilakukan Karen membuat dirinya kehilangan identitas sebagai seorang penjahat. Karena sudah merasa terus diabaikan dan diremehkan, Karen akhirnya menendang Plankton keluar dan memutuskan untuk menguasai dunia dengan caranya sendiri.

Dari sinilah masalah baru dimulai dan Plankton harus menghadapi Karen sekaligus mencoba menyelamatkan Bikini Bottom.

POV: Opini Jujur Saya dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Akhirnya Kita Bisa Melihat Cerita Dari Sudut Pandang Plankton

Ini sebenarnya alasan utama kenapa saya mau menonton film ini.

Setelah bertahun-tahun melihat SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs dan karakter lainnya, menurut saya menarik sekali kalau salah satu karakter diberikan kesempatan untuk menjadi pusat cerita.

Plankton sendiri sebenarnya karakter yang cukup menarik. Dia selalu dianggap sebagai penjahat kecil yang gagal mencuri resep Krabby Patty, selalu kalah dari Mr. Krabs dan sering menjadi bahan lelucon.

Tapi ketika karakter seperti ini diberikan film sendiri, kita akhirnya bisa melihat sisi lain dari kehidupannya.

Terutama hubungannya dengan Karen.

Menurut saya justru dinamika Plankton dan Karen menjadi salah satu bagian yang paling menarik dari film ini. Karena selama ini Karen lebih sering menjadi pasangan yang membantu Plankton menjalankan rencana jahatnya, sementara di film ini hubungan mereka mendapatkan porsi yang jauh lebih besar.

Dan jujur saya cukup tertarik dengan bagaimana Karen akhirnya menjadi pusat konflik.

Pengisi Suara Masih Menjadi Salah Satu Kekuatan Utama

Untuk masalah voice acting menurut saya tidak ada yang perlu terlalu dipermasalahkan.

Jill Talley sebagai Karen, Tom Kenny sebagai SpongeBob dan Mr. Lawrence sebagai Plankton masih terasa sangat familiar.

Bahkan mungkin karena suara mereka sudah sangat melekat dengan karakter masing-masing, saya masih bisa menikmati film ini walaupun secara cerita tidak semuanya saya suka.

Terutama Mr. Lawrence sebagai Plankton.

Menurut saya suara Plankton memang salah satu bagian penting dari karakter ini. Mau dia sedang marah, frustasi, membuat rencana jahat atau melakukan sesuatu yang bodoh, tetap terasa seperti Plankton yang saya kenal sejak kecil.

Ternyata Saya Masih Bisa Tertawa

Jujur saja saya masuk ke film ini dengan ekspektasi yang cukup rendah.

Saya pikir saya bakal duduk diam sampai film selesai karena beberapa humor dari trailer menurut saya tidak terlalu menarik.

Tapi ternyata saya salah.

Ada cukup banyak bagian yang membuat saya tertawa.

Memang sebagian besar humornya masih sangat cocok untuk anak-anak, tetapi beberapa lelucon justru menurut saya cukup menghibur untuk orang dewasa.

Bahkan ada satu bagian yang membuat saya benar-benar tertawa cukup keras.

Saya tidak akan membocorkan bagian tersebut karena menurut saya lebih bagus kalau kalian menemukan sendiri ketika menontonnya.

Tapi intinya saya cukup kaget karena ternyata film ini masih bisa membuat saya tertawa setelah bertahun-tahun saya merasa sudah tidak terlalu menikmati SpongeBob seperti dulu.

Banyak Referensi Untuk Penggemar Lama

Nah ini juga salah satu bagian yang cukup saya sukai.

Film ini memberikan cukup banyak referensi terhadap serial maupun film SpongeBob sebelumnya.

Dan menariknya beberapa referensi tersebut tidak terasa terlalu dipaksakan.

Saya sendiri sudah bertahun-tahun tidak mengikuti serial SpongeBob secara rutin, tetapi ketika melihat beberapa referensi yang muncul, saya masih bisa mengingat kira-kira dari season atau episode mana karakter atau lelucon tersebut berasal.

Buat saya ini semacam nostalgia kecil.

Tidak sampai membuat saya kembali menjadi penggemar berat SpongeBob seperti dulu, tapi setidaknya membuat saya tersenyum ketika melihat sesuatu yang familiar.

Ada Beberapa Bagian Animasi Yang Menarik

Walaupun nanti saya akan membahas animasinya sebagai salah satu kekurangan, bukan berarti semuanya buruk.

Ada beberapa bagian yang menurut saya justru cukup bagus secara visual.

Terutama ketika film mencoba menggunakan gaya animasi yang berbeda-beda pada beberapa bagian tertentu.

Ada momen dimana saya berpikir, “nah ini baru menarik.”

Bahkan ada satu bagian di sekitar pertengahan film yang menurut saya merupakan bagian terbaik dari keseluruhan film.

Saya tidak mau spoiler, tapi menurut saya sekitar bagian tersebut adalah rangkuman yang cukup bagus mengenai konflik Plankton dan Karen.

Sayangnya setelah bagian tersebut, film kembali berjalan seperti biasa.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Plankton: The Movie Menurut Saya

Kelebihan

1. POV Plankton terasa menarik

Menurut saya ide membuat film yang berfokus kepada Plankton merupakan ide yang cukup menarik.

Karakter yang selama ini hanya menjadi penjahat kecil akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menjadi karakter utama.

2. Hubungan Plankton dan Karen cukup menarik

Saya justru lebih tertarik dengan hubungan kedua karakter ini dibandingkan dengan konflik besarnya.

Ada dinamika yang cukup berbeda dibandingkan apa yang biasanya kita lihat di serial SpongeBob.

3. Masih ada beberapa humor yang berhasil

Tidak semua lelucon berhasil, tetapi beberapa diantaranya benar-benar membuat saya tertawa.

Terutama beberapa lelucon yang menurut saya cukup tidak terduga.

4. Referensi SpongeBob cukup banyak

Untuk penggemar lama, saya rasa beberapa referensi ini bisa menjadi nilai tambah.

Saya sendiri beberapa kali merasa nostalgia karena melihat sesuatu yang mengingatkan saya pada episode SpongeBob yang dulu sering saya tonton.

5. Voice acting masih solid

Suara Plankton, Karen dan SpongeBob masih terasa familiar dan menurut saya tetap menjadi salah satu kekuatan film ini.

Kekurangan

1. Animasi terasa aneh

Saya tidak mau mengatakan animasinya jelek karena tentu saja banyak sekali orang yang bekerja keras untuk membuat film ini.

Tapi kalau dibandingkan dengan Sponge on the Run, saya pribadi merasa kualitas visualnya mengalami penurunan.

Menurut saya akan jauh lebih menarik kalau film ini menggunakan animasi 2D seperti serial SpongeBob atau setidaknya menggunakan kualitas visual seperti film sebelumnya.

Karena beberapa kali saya merasa desain karakter dan pergerakannya terasa agak aneh.

2. Arah karakter Plankton agak membingungkan

Nah ini agak sulit dibahas tanpa spoiler.

Tapi saya kurang begitu menyukai beberapa keputusan yang diambil terhadap karakter Plankton.

Terutama ketika berkaitan dengan perubahan sikap Karen.

Plankton yang seharusnya menjadi karakter utama justru beberapa kali melakukan sesuatu yang membuat saya berpikir,

“Lah... ngapain lu?”

Dan kalau saya harus menggambarkan Plankton dalam film ini dengan satu kata...

brengsek.

Bukan dalam arti karakternya gagal, tapi memang ada beberapa keputusan yang membuat saya cukup kesal melihatnya.

3. SpongeBob sudah terlalu bodoh

Apakah cuma saya yang merasa SpongeBob sekarang sudah terlalu bodoh?

Saya tahu memang dari dulu SpongeBob sudah konyol dan bodoh. Itu memang bagian dari karakternya.

Tapi menurut saya ada perbedaan antara karakter yang bodoh karena konyol dengan karakter yang dibuat terlalu bodoh hanya supaya leluconnya bisa berjalan.

Dan di film ini menurut saya SpongeBob sudah masuk ke level yang agak berlebihan.

Saya sampai berpikir kalau menurut imajinasi saya sendiri, mungkin sejak episode “Squilliam Returns” Season 3 itu adalah salah satu titik dimana SpongeBob mulai benar-benar menjadi terlalu bodoh.

Astaga... saya tahu SpongeBob memang seperti itu sejak dulu, tapi di film ini menurut saya agak berlebihan.

4. Ada beberapa peluang lelucon visual yang terlewatkan

Ini juga salah satu hal yang saya rasakan.

Beberapa lelucon sebenarnya sudah memiliki setup yang bagus, tetapi menurut saya akan jauh lebih lucu kalau ditambah dengan visual atau grafis yang lebih absurd.

Karena SpongeBob sendiri dari dulu sebenarnya terkenal bukan hanya karena dialognya, tetapi juga karena ekspresi, gerakan tubuh dan visual absurd yang muncul tiba-tiba.

Dan menurut saya film ini masih bisa memaksimalkan bagian tersebut.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Jadi setelah menonton Plankton: The Movie, bagaimana pendapat saya?

Yahhh... so so lah.

Menurut saya film ini bukan film SpongeBob yang buruk, tapi juga bukan film yang membuat saya berpikir,

“Wah akhirnya SpongeBob kembali seperti dulu.”

Justru saya cukup senang karena film ini mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dengan mengambil karakter Plankton sebagai pusat cerita.

Hubungan Plankton dan Karen juga menurut saya cukup menarik dan ada beberapa bagian yang benar-benar membuat saya tertawa.

Tapi di sisi lain, masalah animasi, beberapa keputusan terhadap karakter Plankton, SpongeBob yang menurut saya terlalu bodoh dan beberapa peluang humor visual yang terlewat membuat film ini terasa belum maksimal.

Kalau kalian adalah fans berat SpongeBob, mungkin film ini masih bisa kalian coba tonton, apalagi kalau penasaran dengan kehidupan Plankton dan Karen dari sudut pandang mereka sendiri.

Untuk rating IMDb sendiri, film ini berada di 5,3/10, dan kalau dari pendapat pribadi saya, rating tersebut menurut saya cukup menggambarkan pengalaman saya ketika menonton film ini.

Jadi kalau ditanya “Plankton: The Movie wajib ditonton?”

Menurut saya...

Kalau penasaran, tonton. Kalau tidak, yaaa... bisa dilewati.

Review Film Mayday: Komedi Action Jadi Satu

Review Film Mayday: Komedi Action Jadi Satu

Review Film Mayday

Hari ini saya ingin mencoba review film bergenre perang yaitu Mayday. Film yang dibintangi oleh Ryan Reynolds ini sebenarnya bukan film yang saya tonton sendirian kali ini, saya menontonnya bersama pasangan saya di NSC Kudus.

Jujur dari awal saya sudah mempunyai ekspetasi sendiri ketika melihat film ini.

Saya mengira film ini akan menjadi film perang yang penuh dengan ketegangan, aksi heroic, suasana mencekam dan mungkin sepanjang film akan lebih banyak adegan serius tanpa terlalu banyak humor atau jokes.

Tapi ternyata saya salah.

Saya dan pasangan saya justru cukup banyak tertawa ketika menonton film ini. Karena dari awal saya mengira akan mendapatkan film perang yang serius, ternyata film ini justru mencampurkan aksi, drama dan komedi dengan cukup seimbang.

Bahkan saya sendiri cukup terkejut karena ternyata saya menikmati film ini jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan.

Sinopsis Singkat: Mayday

Mayday bercerita mengenai Letnan Troy Brennan, seorang pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang menjalankan sebuah misi rahasia di wilayah Uni Soviet pada masa Perang Dingin.

Namun misi tersebut mengalami kekacauan dan pesawat yang digunakan Troy akhirnya jatuh di wilayah Rusia.

Dalam kondisi terjebak di belakang garis musuh dan berusaha menghindari penangkapan, Troy kemudian bertemu dengan seorang mantan agen KGB bernama Nikolai Ustinov.

Alih-alih menjadi musuh, keduanya justru terpaksa bekerja sama untuk bisa bertahan hidup.

Dari sinilah kemudian perjalanan mereka dimulai.

Dan menurut saya bagian menariknya bukan hanya bagaimana mereka mencoba bertahan hidup, tetapi juga hubungan antara Troy dan Nikolai yang perlahan berkembang sepanjang film.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Ternyata Film Ini Tidak Seserius Yang Saya Bayangkan

Seperti yang saya bilang di awal, saya masuk ke studio dengan ekspetasi bahwa film ini akan penuh dengan ketegangan. Saya membayangkan akan banyak adegan perang, baku tembak, kejar-kejaran dan situasi yang membuat saya tegang. Tapi ternyata tidak sepenuhnya seperti itu.

Film ini justru cukup banyak memberikan komedi. Dan yang menarik menurut saya, komedinya tidak terlalu terasa dipaksakan.

Ada beberapa interaksi antara karakter yang justru membuat saya dan pasangan saya tertawa.

Menurut saya ini salah satu keputusan yang cukup bagus karena kalau film ini hanya berisi adegan serius dari awal sampai akhir mungkin pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih berat.

Campuran antara drama, aksi dan komedi menurut saya berada di porsi yang cukup pas.

Tidak terlalu banyak sampai menghilangkan sisi serius film, tapi juga tidak terlalu sedikit sampai membuat film terasa kaku.

Chemistry Ryan Reynolds dan Kenneth Branagh

Menurut saya salah satu kekuatan terbesar film ini ada di hubungan dua karakter utamanya.

Ryan Reynolds sebagai Troy dan Kenneth Branagh sebagai Nikolai mempunyai chemistry yang menurut saya cukup menarik.

Keduanya mempunyai karakter yang sangat berbeda.

Troy lebih terasa seperti karakter yang penuh dengan gaya dan humor khas Ryan Reynolds.

Sedangkan Nikolai mempunyai pembawaan yang lebih tua, eksentrik dan mempunyai sisi dramatis yang cukup kuat.

Ketika kedua karakter tersebut bertemu, akhirnya muncul banyak interaksi yang menurut saya menjadi sumber komedi sekaligus membuat hubungan mereka berkembang.

Dan semakin lama hubungan keduanya justru menjadi salah satu bagian yang membuat saya tertarik mengikuti ceritanya.

Bukan hanya soal mereka bisa keluar dari masalah atau tidak, tetapi saya juga penasaran bagaimana hubungan mereka akan berkembang sampai akhir film.

Ryan Reynolds Tetap Ryan Reynolds

Kalau membicarakan Ryan Reynolds menurut saya tidak perlu diragukan lagi.

Aktor ini memang sudah sangat terkenal dengan kemampuan komedinya.

Bahkan kalau melihat beberapa filmnya, gaya humor dan cara dia membawakan dialog sudah sangat mudah dikenali.

Dan di film ini gaya tersebut masih terasa.

Saya bahkan sempat berpikir,

“Ini Ryan Reynolds banget.”

Kalau mau bercanda sedikit, Ryan Reynolds memang sukses di banyak film... kecuali Green Lantern. Just jokes.

Tapi menurut saya justru disinilah salah satu kekurangan film ini.

Saya berharap Ryan Reynolds bisa memberikan sesuatu yang sedikit lebih berbeda dari karakter-karakter yang biasanya dia mainkan.

Karena meskipun saya menikmati gaya tersebut, ada beberapa bagian dimana saya merasa karakter Troy terlalu mirip dengan karakter Ryan Reynolds yang sebelumnya.

Saya ingin melihat sisi Ryan Reynolds yang lebih deep dan mungkin lebih serius tanpa terlalu banyak mengandalkan gaya bercandanya.

Kenneth Branagh Justru Menjadi Salah Satu Sorotan

Menurut saya Kenneth Branagh justru cukup mencuri perhatian di film ini.

Dia mampu memberikan sisi dramatis sekaligus komedi dalam satu karakter.

Dan yang menarik, dia juga terlihat cukup meyakinkan ketika berada dalam adegan aksi.

Padahal kalau saya melihat Kenneth Branagh, mungkin hal pertama yang ada di pikiran saya bukan aktor film action.

Tapi di Mayday dia cukup berhasil menunjukkan sisi tersebut.

Interaksinya dengan Ryan Reynolds juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini terasa hidup.

Menurut saya kalau hanya mengandalkan Ryan Reynolds saja, mungkin filmnya akan terlalu bergantung kepada komedi.

Tapi dengan adanya karakter Nikolai yang diperankan Kenneth Branagh, film ini mempunyai keseimbangan yang lebih baik antara drama dan humor.

Adegan Aksinya Tidak Terasa Sama Semua

Salah satu kelebihan lain menurut saya adalah setiap set adegan aksinya mempunyai gaya yang cukup berbeda.

Tidak terasa seperti setiap aksi hanya dibuat untuk sekedar memenuhi durasi film.

Salah satu yang paling saya ingat adalah adegan pertarungan di bar.

Gaya pertarungannya menurut saya mempunyai sedikit nuansa prop fu seperti yang sering kita lihat dalam film-film Jackie Chan, dimana benda-benda yang ada di sekitar lokasi bisa ikut digunakan dalam pertarungan.

Kemudian ada juga bagian kejar-kejaran tank yang menurut saya cukup menonjol.

Jadi walaupun film ini mempunyai banyak humor, ketika masuk ke bagian action film tetap bisa memberikan sesuatu yang menarik untuk dilihat.

Drama dan Komedinya Menurut Saya Pas

Ini mungkin bagian yang paling saya suka dari film ini.

Menurut saya campuran drama dan komedinya cukup seimbang.

Tidak terlalu banyak humor sampai membuat saya merasa film ini tidak serius.

Dan tidak terlalu banyak drama sampai membuat film terasa berat.

Saya dan pasangan saya beberapa kali tertawa ketika menonton film ini, tapi ketika film masuk ke bagian yang lebih serius, saya masih bisa mengikuti dan merasakan konfliknya.

Menurut saya keseimbangan seperti ini cukup penting.

Karena kalau sebuah film action comedy terlalu banyak komedi, akhirnya sisi action-nya bisa terasa tidak penting.

Sebaliknya kalau terlalu serius, humor yang diberikan bisa terasa hanya tempelan.

Tapi di Mayday menurut saya keduanya masih cukup menyatu.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Mayday

Kelebihan

1. Campuran drama, action dan komedi cukup pas

Ini menjadi salah satu kelebihan terbesar film menurut saya.

Komedi tidak terlalu berlebihan dan drama juga tidak terlalu berat.

2. Chemistry antar aktor sangat bagus

Ryan Reynolds dan Kenneth Branagh mempunyai interaksi yang menarik dan menjadi salah satu daya tarik utama film.

3. Adegan aksi mempunyai gaya yang berbeda

Pertarungan di bar sampai adegan kejar-kejaran tank memberikan variasi sehingga film tidak terasa hanya mengulang jenis action yang sama.

4. Akting para pemain cukup berkesan

Menurut saya hampir setiap karakter mempunyai sesuatu yang membuat mereka mudah diingat.

Terutama Kenneth Branagh yang menurut saya cukup mencuri perhatian.

5. Filmnya menghibur

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menurut saya penting.

Saya datang dengan ekspetasi tertentu dan ternyata sepanjang film saya justru cukup sering tertawa bersama pasangan saya.

Jadi dari sisi hiburan, film ini berhasil memberikan pengalaman yang menyenangkan.

Kekurangan

1. Karakter Ryan Reynolds terasa terlalu familiar

Menurut saya karakter yang dimainkan Ryan Reynolds masih terlalu dekat dengan karakter yang biasa dia mainkan.

Gaya bercandanya masih sangat terasa seperti Ryan Reynolds.

Saya sebenarnya berharap dia bisa memberikan karakter yang lebih deep dan keluar sedikit dari zona nyamannya.

2. Jangan berharap film perang yang terlalu serius

Ini sebenarnya bukan kekurangan mutlak, tapi kalau kalian masuk ke bioskop dengan harapan mendapatkan film perang yang sangat serius dan mencekam dari awal sampai akhir, mungkin kalian akan sedikit terkejut.

Karena film ini memang lebih tepat disebut sebagai campuran action, survival dan comedy dibandingkan film perang yang benar-benar serius.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Mayday, jujur saya tidak menyangka akan menikmati film ini sebanyak itu.

Awalnya justru pasangan saya yang memilih film ini dan saya hanya mengikuti saja dengan ekspetasi bahwa saya akan mendapatkan film perang standar.

Ternyata hasilnya berbeda.

Saya dan pasangan saya cukup banyak tertawa selama menonton film ini dan menurut saya itu menjadi salah satu kejutan yang menyenangkan.

Film ini juga mempunyai hubungan antar karakter yang cukup menarik, terutama antara Ryan Reynolds dan Kenneth Branagh.

Chemistry keduanya membuat film terasa lebih hidup dan bukan hanya sekedar film tentang seorang pilot yang berusaha bertahan hidup di belakang garis musuh.

Adegan action-nya juga menurut saya cukup bagus.

Setiap adegan mempunyai gaya tersendiri, mulai dari pertarungan di bar sampai adegan kejar-kejaran tank.

Ditambah lagi campuran drama dan komedinya menurut saya berada di porsi yang cukup pas.

Untuk kekurangannya sendiri, saya masih merasa Ryan Reynolds terlalu bermain di zona nyaman.

Saya berharap suatu saat bisa melihat dia memainkan karakter yang jauh lebih serius dan deep, keluar dari gaya karakter yang selama ini sering dia mainkan.

Tapi balik lagi, itu hanya opini saya.

Secara keseluruhan saya sangat merekomendasikan Mayday untuk kalian yang ingin menonton film action yang ringan, menghibur dan tidak terlalu serius.

Kalau kalian datang dengan pasangan seperti saya, menurut saya film ini juga cukup cocok karena ada action-nya, ada dramanya dan ada komedinya.

Untuk rating IMDb sendiri, saat saya melihatnya Mayday mendapatkan 6,8/10 dari sekitar 32 ribu rating.

Kalau dari saya pribadi?

Saya justru akan memberikan nilai 8/10.

Bukan karena film ini sempurna, tapi karena film ini berhasil melakukan sesuatu yang saya tidak ekspetasikan sejak awal.

Review Minions & Monsters: Tingkah Konyol Makhluk Kuning yang Nyasar Jadi Pembuat Film di Hollywood

Review Minions & Monsters: Tingkah Konyol Makhluk Kuning yang Nyasar Jadi Pembuat Film di Hollywood

Review Minions & Monsters

Dari awal menonton film ini sebenarnya saya tidak berekspetasi apapun. Walaupun banyak yang antusias saat film ini diputar, hal ini bisa dilihat dari cukup banyaknya anak-anak dan orang dewasa yang datang ke bioskop NSC Kudus ketika film ini ditayangkan.

Kalau saya sendiri datang ke bioskop memang hanya ingin bersantai.

Saya ingin ketawa melihat tingkah konyol para Minion tanpa terlalu berharap dengan alur cerita, konflik atau plot twist yang akan diberikan oleh film ini.

Karena menurut saya kalau sudah berhubungan dengan Minion, kita sebenarnya sudah tahu apa yang akan kita dapatkan.

Minion yang berantakan, tingkah konyol, suara yang tidak jelas, dan berbagai macam kekacauan yang mereka buat.

Tapi ada satu hal yang semakin saya rasakan setelah menonton film ini, yaitu menurut saya kedepannya akan cukup berat bagi Minion jika harus berdiri sendiri tanpa karakter seperti Gru.

Sinopsis Singkat: Minions & Monsters

Film ini membawa para Minion ke dunia Hollywood pada tahun 1920-an.

Para Minion kali ini mencari makhluk menakutkan untuk dijadikan bagian dari film monster yang sedang mereka buat.

Namun seperti yang bisa kalian bayangkan, ketika para Minion sudah mulai melakukan sesuatu, tentu saja semuanya tidak akan berjalan normal.

Mereka kemudian bertemu dengan makhluk hijau yang tidak terduga dan dari sinilah kekacauan semakin besar sampai mereka harus berusaha menyelamatkan bumi dari monster yang mereka lepaskan sendiri.

Jadi konsepnya menurut saya cukup unik.

Para Minion bukan hanya menjadi karakter yang berada di dalam sebuah cerita monster, tetapi film ini juga mencoba membawa mereka masuk ke dalam dunia perfilman Hollywood klasik.

Ada beberapa referensi mengenai film-film monster lama, film bisu dan sejarah perfilman yang menurut saya justru lebih mungkin dipahami oleh penonton dewasa dibandingkan anak-anak.

POV: Opini Jujur Menurut Saya Soal Film Ini

Saya Memang Datang Hanya Untuk Ketawa

Seperti yang saya bilang di awal, dari awal saya memang tidak mempunyai ekspetasi apapun.

Saya hanya ingin bersantai dan menikmati tingkah konyol para Minion..

Ada beberapa bagian dimana saya masih bisa tersenyum melihat tingkah mereka yang memang sangat absurd.

Karena memang kekuatan utama Minion dari dulu bukan pada cerita yang rumit.

Kekuatan mereka ada pada tingkah laku yang konyol dan kekacauan yang mereka buat.

Jadi selama film masih bisa memberikan hal tersebut, menurut saya masih ada alasan untuk menikmati filmnya.

Konsep Hollywood Tahun 1920-an Cukup Menarik

Menurut saya salah satu hal yang cukup menarik dari film ini adalah bagaimana Minion dimasukkan ke dalam dunia Hollywood lawas.

Ada semacam kecintaan terhadap sejarah perfilman yang dimasukkan ke dalam cerita.

Mulai dari nuansa film bisu, film monster klasik sampai beberapa referensi yang mungkin lebih bisa ditangkap oleh orang dewasa.

Buat anak-anak mungkin mereka hanya melihat Minion dan monster.

Tapi buat orang dewasa, beberapa referensi tersebut bisa terasa lebih menarik karena kita bisa melihat bahwa film ini mengambil inspirasi dari berbagai macam genre film klasik.

Menurut saya konsep ini sebenarnya cukup bagus.

Bahkan ada satu gagasan sederhana yang menurut saya menarik dari film ini yaitu tentang “Buatlah film!”

Dari sini film seperti mencoba menunjukkan bahwa sebuah film bisa lahir dari kreativitas, ketidaktahuan dan kekacauan.

Dan tentu saja ketika yang membuat film adalah para Minion, hasilnya menjadi sangat kacau.

Menurut saya bagian seperti inilah yang justru membuat film ini cukup menyenangkan untuk diikuti.

Tapi Minion Kalau Berdiri Sendiri Menurut Saya Mulai Terasa Kurang

Nah ini opini pribadi saya.

Menurut saya Minion sebenarnya akan cukup berat kalau harus terus menerus berdiri sendiri tanpa adanya karakter seperti Gru.

Bukan berarti Minion tidak lucu.

Mereka masih lucu dan konyol.

Tapi menurut saya karakter Minion lebih efektif ketika mereka menjadi karakter pendukung.

Kita bisa melihat hal tersebut dari film-film Despicable Me sebelumnya.

Ketika ada Gru, Minion mempunyai seseorang untuk menjadi pusat interaksi mereka.

Ada hubungan yang jelas antara Gru dan Minion.

Ada karakter yang bisa menjadi tempat Minion melakukan kekacauan.

Sedangkan ketika Minion berdiri sendiri, menurut saya lama kelamaan kekonyolan mereka bisa terasa repetitif.

Awalnya lucu.

Kemudian lucu lagi.

Kemudian mereka melakukan kekacauan lagi.

Tapi kalau sepanjang film hanya mengandalkan hal tersebut, lama kelamaan saya merasa ada sesuatu yang kurang.

Dan perasaan tersebut saya rasakan ketika menonton Minions & Monsters.

Komedinya Masih Ada, Tapi Mulai Terasa Repetitif

Untuk masalah komedi sebenarnya saya masih bisa menikmati.

Ada beberapa adegan yang memang membuat saya tersenyum.

Tapi menurut saya Minion memang mempunyai batas tertentu dalam memberikan humor.

Karena mereka mempunyai gaya komedi yang sangat khas.

Suara aneh.

Tingkah konyol.

Jatuh.

Berantakan.

Membuat kekacauan.

Dan hal-hal absurd lainnya.

Kalau digunakan dalam porsi tertentu tentu sangat menghibur.

Tapi kalau terlalu sering digunakan sepanjang film, menurut saya efek lucunya bisa berkurang.

Jadi saya merasa Minion sebenarnya lebih cocok muncul sebagai karakter pendukung yang memberikan humor di sela-sela cerita utama daripada harus menjadi satu-satunya sumber hiburan selama film berlangsung.

Dari Segi Visual Tidak Perlu Diragukan

Kalau berbicara mengenai kualitas animasi menurut saya tidak perlu diragukan lagi.

Visualnya bagus.

Audio juga bagus.

Musiknya juga mendukung suasana film.

Dari awal sampai akhir saya tidak merasa ada masalah dari sisi teknis.

Warna-warni khas dunia Minion juga tetap terasa dan membuat film ini sangat cocok untuk ditonton oleh anak-anak.

Jadi kalau kalian membawa anak untuk menonton film ini, secara visual menurut saya mereka akan sangat menikmati apa yang ada di layar.

Ceritanya Ringan dan Tidak Perlu Terlalu Dipikirkan

Kalau kalian mencari cerita yang kompleks, menurut saya film ini bukan tempatnya.

Tapi memang dari awal saya tidak mencari hal tersebut.

Saya hanya ingin menonton film yang ringan.

Dan dari sisi itu film ini cukup memenuhi apa yang saya harapkan.

Filmnya tidak membuat saya harus berpikir keras mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tidak perlu terlalu memikirkan plot twist.

Tinggal duduk, menikmati animasi, melihat Minion membuat kekacauan dan sesekali tertawa.

Dan menurut saya itu memang sudah cukup.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film ini Menurut Opini Saya Pribadi

Kelebihan

1. Minion masih lucu dan konyol

Ini tentu menjadi alasan utama kenapa film ini masih bisa dinikmati.

Tingkah konyol mereka masih menjadi daya tarik terbesar film.

2. Konsep Hollywood klasik cukup menarik

Membawa Minion ke dunia perfilman Hollywood tahun 1920-an menurut saya merupakan ide yang cukup unik.

Apalagi ada beberapa referensi terhadap film monster dan perfilman klasik.

3. Visual, audio dan musik sangat bagus

Dari sisi teknis menurut saya tidak perlu diragukan.

Animasi, suara dan musik semuanya mendukung pengalaman menonton film ini.

4. Cocok untuk tontonan santai bersama keluarga

Saya sendiri datang ke bioskop memang hanya ingin bersantai dan film ini cukup berhasil memberikan pengalaman tersebut.

Kekurangan

1. Karakter Minion terasa sedikit hampa ketika berdiri sendiri

Ini menurut saya kekurangan terbesar film ini.

Bukan karena Minion tidak lucu, tetapi karena saya merasa mereka membutuhkan karakter lain untuk menjadi pusat interaksi.

Menurut saya karakter seperti Gru sangat penting untuk membuat tingkah Minion terasa lebih menarik.

2. Humor mulai terasa repetitif

Karena film cukup banyak mengandalkan tingkah konyol Minion, ada beberapa bagian yang menurut saya mulai terasa berulang.

3. Ceritanya cukup ringan

Untuk saya pribadi ini bukan masalah besar karena memang dari awal saya tidak mempunyai ekspetasi terhadap ceritanya.

Tapi kalau kalian mencari cerita yang kuat dan emosional, mungkin film ini tidak terlalu menawarkan hal tersebut.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Minions & Monsters, menurut saya film ini masih enak dan cukup enjoy untuk ditonton.

Dan sebenarnya film ini sudah memberikan apa yang saya harapkan sejak awal masuk studio.

Saya hanya ingin bersantai.

Saya ingin melihat Minion melakukan hal-hal konyol.

Saya ingin tertawa tanpa harus terlalu memikirkan cerita atau plot twist.

Dan untuk hal tersebut, film ini menurut saya berhasil.

Tapi kalau ditanya apakah saya ingin melihat film Minion berikutnya yang kembali berdiri sendiri tanpa karakter seperti Gru?

Menurut saya justru disitulah tantangannya.

Karena semakin lama saya merasa Minion akan lebih menyenangkan jika mereka mempunyai karakter lain sebagai pendamping.

Menurut saya akan lebih segar kalau ada karakter seperti Gru yang menjadi pusat cerita sementara Minion menjadi karakter pembantunya.

Bukan berarti Minion tidak bisa berdiri sendiri.

Mereka masih lucu.

Mereka masih konyol.

Dan mereka masih mempunyai daya tarik yang sangat kuat terutama untuk anak-anak.

Hanya saja menurut saya kalau hanya mengandalkan kekonyolan Minion sepanjang film, lama kelamaan akan terasa repetitif.

Jadi secara keseluruhan, saya masih memasukkan Minions & Monsters ke dalam rekomendasi untuk kalian yang memang tidak terlalu peduli dengan alur cerita atau plot dan hanya ingin menikmati film animasi yang ringan.

Kalau kalian datang bersama keluarga atau anak-anak, menurut saya film ini masih cukup cocok.

Tapi kalau kalian berharap mendapatkan cerita yang sangat kuat, emosional atau mempunyai plot twist yang mengejutkan, mungkin jangan memasang ekspetasi terlalu tinggi.

Untuk saya pribadi, film ini sudah sesuai dengan tujuan saya ketika masuk bioskop.

Santai, ketawa dan menikmati kekonyolan Minion.

Untuk rating IMDb sendiri, saat saya melihatnya film ini mendapatkan 6,3/10.

Review Film Toy Story 5: Nostalgia Masa Kecil yang Beradu dengan Era Digital

Review Film Toy Story 5: Nostalgia Masa Kecil yang Beradu dengan Era Digital

 

Review Film Toy Story 5: Nostalgia Masa Kecil yang Beradu dengan Era Digital

Hari ini saya akan mencoba untuk review film Toy Story 5 setelah saya menonton filmnya di NSC Kudus. Jujur cukup banyak yang menonton film ini bersama keluarga, bahkan beberapa kursi bisa dibilang penuh karena banyak yang mengambil paket untuk keluarga.

Dan sebenarnya ada satu hal yang membuat saya cukup tertarik untuk menonton film ini.

Saya merupakan salah satu orang yang sangat menyukai serial Toy Story. Dari Toy Story pertama sampai Toy Story 4 semuanya pernah saya tonton. Bahkan saking sukanya dengan serial ini, dulu saya juga sempat memainkan game Toy Story di PS 2.

Dari semua karakter yang ada di Toy Story, karakter yang paling saya suka tentu saja Woody.

Jadi ketika Toy Story 5 diumumkan, jujur saya punya perasaan yang agak campur aduk.

Di satu sisi saya senang karena bisa kembali melihat karakter-karakter Toy Story di layar lebar. Tapi di sisi lain saya merasa sebenarnya ending dari Toy Story 4 sudah cukup untuk menjadi akhir dari perjalanan cerita Toy Story.

Dan yang paling saya kuatirkan adalah Disney terlalu melakukan milking terhadap franchise Toy Story ini.

Karena menurut saya tidak semua film harus dibuat menjadi panjang hanya karena sebuah franchise masih mempunyai nama yang besar.

Sinopsis Singkat: Toy Story 5

Cerita Toy Story 5 kembali mempertemukan Woody, Buzz, Jessie dan teman-teman mereka dengan sebuah masalah baru.

Kali ini dunia mainan harus menghadapi ancaman yang berbeda dari film-film sebelumnya, yaitu kehadiran perangkat elektronik yang mulai mengambil perhatian anak-anak.

Mainan yang selama ini menjadi bagian dari masa bermain anak-anak mulai menghadapi kenyataan bahwa anak-anak sekarang lebih tertarik dengan perangkat elektronik dibandingkan bermain menggunakan mainan mereka.

Dari sinilah konflik utama film ini dimulai.

Kalau melihat sinopsis sederhananya, sebenarnya konsepnya cukup relevan dengan kehidupan anak-anak sekarang. Apalagi hampir semua anak saat ini sudah sangat dekat dengan gadget dan berbagai macam konten digital.

Jadi menurut saya konsep dasarnya cukup menarik.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Toy Story 5 Lebih Banyak Memberikan Spotlight Kepada Jessie

Menurut saya hal yang paling terasa berbeda dari film ini adalah posisi Woody.

Kalau kita melihat film-film Toy Story sebelumnya, Woody selalu menjadi salah satu karakter yang sangat penting dalam cerita.

Bahkan kalau kita bicara mengenai Toy Story, nama Woody rasanya sudah tidak bisa dipisahkan dari franchise ini.

Tapi di Toy Story 5, Woody lebih banyak menjadi karakter pendukung.

Justru kali ini film lebih memberikan spotlight kepada Jessie dan beberapa karakter mainan lainnya.

Menurut saya sebenarnya ini cukup menarik.

Karena setelah empat film, memang mungkin sudah saatnya karakter lain mendapatkan kesempatan untuk menjadi pusat cerita.

Dan saya juga bisa memahami kenapa Pixar ingin mencoba sesuatu yang berbeda.

Tapi sebagai penggemar Woody, jujur saya sedikit kecewa.

Saya datang ke bioskop dengan harapan bisa kembali melihat Woody menjadi pusat dari sebuah petualangan besar Toy Story.

Ternyata kali ini Woody justru lebih banyak berada di belakang cerita.

Jadi di satu sisi saya menghargai keputusan tersebut, tapi di sisi lain saya tetap merasa kehilangan sesuatu yang menjadi ciri khas Toy Story sebelumnya.

Cerita Tentang Anak-Anak dan Gadget

Menurut saya kalau kita sederhanakan, Toy Story 5 sebenarnya adalah cerita tentang Jessie dan bagaimana perangkat elektronik mulai mengambil alih waktu bermain anak-anak.

Film ini mencoba menunjukkan kenapa anak-anak seharusnya tetap bermain secara aktif dan tidak terus menerus bergantung kepada perangkat elektronik.

Dan menurut saya pesan tersebut memang cukup relevan dengan kondisi sekarang.

Anak-anak memang semakin dekat dengan smartphone, tablet dan berbagai macam konten digital.

Jadi saya sebenarnya tidak mempermasalahkan pesan yang ingin disampaikan.

Yang menjadi sedikit lucu buat saya adalah Disney sendiri merupakan salah satu perusahaan yang menghasilkan sangat banyak konten yang ditonton anak-anak melalui perangkat elektronik.

Jadi ketika film ini seolah mengatakan bahwa anak-anak jangan terlalu bergantung kepada perangkat elektronik, saya pribadi sempat berpikir,

“Disney sendiri kan salah satu penyumbang konten digital yang bikin anak anak nontonin hp mulu”

Tapi ya balik lagi, menurut saya pesan mengenai pentingnya bermain secara langsung tetap merupakan pesan yang cukup bagus untuk anak-anak.

Menurut Saya Ceritanya Cukup Membosankan

Nah ini bagian yang cukup jujur dari saya.

Saya dan istri saya sama-sama merasa cerita Toy Story 5 cukup membosankan.

Bukan berarti sepanjang film tidak ada bagian yang menarik, tetapi secara keseluruhan saya merasa tempo film ini sedikit lebih lambat dibandingkan film-film sebelumnya.

Kalau kita melihat Toy Story 1 sampai 4, selalu ada semacam petualangan yang membuat saya penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Toy Story 2 punya cerita Woody yang diculik.

Toy Story 3 membawa kita ke Sunnyside dan kemudian menghadirkan perjalanan yang cukup emosional.

Toy Story 4 juga mempunyai perjalanan Woody yang menurut saya terasa seperti penutup dari cerita karakternya.

Sedangkan di film kelima ini saya tidak mendapatkan perasaan yang sama.

Ceritanya tetap berjalan dan masih bisa diikuti, tapi rasa petualangannya menurut saya tidak sekuat film-film sebelumnya.

Apakah Toy Story 5 Buruk?

Menurut saya tidak.

Ini penting untuk saya jelaskan karena setelah membaca atau mendengar beberapa pendapat mengenai film ini, mungkin ada yang menganggap kalau saya tidak suka berarti filmnya buruk.

Menurut saya bukan seperti itu.

Toy Story 5 tetap merupakan film yang bagus.

Tidak banyak franchise yang mampu menghasilkan beberapa sekuel berkualitas secara berturut-turut seperti Toy Story.

Toy Story sendiri sudah mempunyai empat film sebelumnya yang menurut saya semuanya mempunyai identitas masing-masing.

Jadi ketika film kelima dibuat, ekspektasi saya memang sudah cukup tinggi.

Mungkin justru masalahnya ada disitu.

Karena saya sudah terlalu menyukai Toy Story 1 sampai 4, akhirnya film kelima ini terasa lebih sulit untuk memenuhi ekspektasi saya.

Jadi kalau kalian baru pertama kali menonton atau tidak mempunyai keterikatan emosional yang terlalu kuat dengan film-film sebelumnya, mungkin pengalaman kalian bisa berbeda dengan saya.

Sebagai Penggemar Woody, Saya Sedikit Kecewa

Ini mungkin bagian yang paling personal dari review saya.

Saya memang datang ke bioskop sebagai penggemar Toy Story, bukan hanya sebagai orang yang ingin melihat film animasi baru.

Saya tumbuh dengan karakter Woody.

Dari Toy Story pertama sampai Toy Story 4, Woody selalu menjadi salah satu karakter yang paling saya ingat.

Bahkan sampai saya memainkan game Toy Story di PS 2.

Jadi ketika saya melihat Woody hanya menjadi karakter support di film ini, rasanya sedikit aneh.

Tapi saya juga bisa melihat sisi positifnya.

Pixar akhirnya mencoba memberikan kesempatan kepada karakter seperti Jessie dan Buzz untuk lebih mendapatkan spotlight.

Dan menurut saya ini sebenarnya keputusan yang cukup menarik untuk franchise yang sudah berjalan selama ini.

Hanya saja mungkin saya membutuhkan waktu untuk menerima bahwa Toy Story sekarang tidak selalu harus berpusat kepada Woody.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Toy Story 5

Kelebihan

1. Memberikan spotlight kepada karakter lain

Menurut saya ini merupakan salah satu hal menarik dari Toy Story 5.

Jessie dan beberapa karakter lain akhirnya mendapatkan perhatian yang lebih besar, sementara Woody menjadi karakter pendukung.

2. Tema ceritanya relevan dengan kehidupan sekarang

Masalah anak-anak yang terlalu dekat dengan gadget dan kurang bermain secara aktif merupakan sesuatu yang memang sangat relevan dengan kehidupan sekarang.

3. Masih mempunyai daya tarik Toy Story

Walaupun menurut saya tidak sekuat film-film sebelumnya, tetap ada rasa nostalgia ketika melihat Woody, Buzz, Jessie dan karakter-karakter lama kembali.

Apalagi untuk orang yang memang sudah mengikuti Toy Story sejak film pertama.

4. Cocok ditonton bersama keluarga

Saya melihat sendiri cukup banyak keluarga yang menonton film ini di NSC Kudus.

Menurut saya memang target film ini sangat cocok untuk tontonan keluarga karena ceritanya masih mudah diikuti dan mempunyai pesan yang bisa dibicarakan bersama anak-anak.

Kekurangan

1. Woody terlalu sedikit mendapatkan peran

Ini tentu menjadi kekurangan terbesar bagi saya secara pribadi.

Sebagai penggemar Woody, saya merasa karakter ini terlalu sedikit mendapatkan porsi dibandingkan film-film sebelumnya.

2. Tempo cerita terasa lebih lambat

Menurut saya beberapa bagian terasa cukup lambat sehingga membuat saya dan istri saya merasa sedikit bosan ketika menontonnya.

3. Petualangannya tidak sekuat film sebelumnya

Toy Story sebelumnya selalu mempunyai rasa petualangan yang membuat saya penasaran.

Di film ini saya merasa sensasi tersebut tidak terlalu kuat.

4. Terasa seperti cerita yang dibuat untuk melanjutkan franchise

Ini mungkin lebih kepada perasaan saya sebagai penggemar.

Setelah Toy Story 4, saya sebenarnya merasa perjalanan Toy Story sudah cukup.

Jadi ketika film kelima dibuat, ada rasa seperti,

“Apakah cerita ini memang masih perlu dilanjutkan?”

Dan setelah menonton filmnya, jawaban saya pribadi masih belum benar-benar yakin.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Jadi setelah menonton Toy Story 5, menurut saya film ini masih layak untuk ditonton.

Apalagi kalau kalian memang penggemar Toy Story atau ingin mengajak anak dan keluarga menonton film di bioskop, menurut saya masih cukup menyenangkan.

Tapi kalau kalian bertanya kepada saya apakah film ini bisa memberikan kesan yang sama seperti Toy Story 1, 2 dan 3?

Untuk saya pribadi jawabannya tidak.

Bahkan saya merasa Toy Story 4 yang awalnya saya pikir sudah menjadi ending yang cukup untuk franchise ini justru terasa lebih pas sebagai penutup perjalanan Woody.

Toy Story 5 bukan film yang buruk, hanya saja menurut saya ini adalah film yang paling lemah dibandingkan lima film Toy Story yang sudah ada.

Saya masih menikmati beberapa bagian dari filmnya, terutama ketika melihat karakter-karakter lama kembali.

Tapi setelah selesai menonton, saya tidak mendapatkan perasaan yang sama seperti ketika selesai menonton film-film Toy Story sebelumnya.

Mungkin untuk saya pribadi film ini cukup ditonton satu kali saja.

Bukan berarti saya menyesal sudah menontonnya, karena tetap ada rasa nostalgia dan pengalaman tersendiri ketika melihat karakter yang sudah saya sukai sejak kecil kembali ke layar lebar.

Tetapi kalau suatu saat nanti saya ingin kembali menonton Toy Story, kemungkinan besar saya akan lebih memilih Toy Story 1 sampai 4 dibandingkan film yang kelima ini.

Untuk rating IMDb sendiri, saat saya melihatnya Toy Story 5 mendapatkan 7,4/10 dari sekitar 82 ribu rating, jadi angka tersebut masih cukup sejalan dengan penilaian penonton secara umum.

Review Film Operasi Pesta Copet: Latar Pestapora yang Nyata, Tapi Sayang Ceritanya Standar

Review Film Operasi Pesta Copet: Latar Pestapora yang Nyata, Tapi Sayang Ceritanya Standar

 

Review Film Operasi Pesta Copet

Hari ini saya mencoba untuk menonton film yang di bintangi oleh Iqbal Ramadhan yaitu Operasi Pesta Copet. Sebenarnya alasan saya menonton film ini lebih karena penasaran, apalagi saya melihat beberapa informasi mengenai film ini yang cukup menarik perhatian saya. Salah satunya adalah lokasi syutingnya yang memang mengambil tempat langsung di acara Pestapora.

Karena penasaran akhirnya saya mencoba menonton film ini di NSC Kudus. Dan kebetulan ketika saya mau membeli tiket ternyata hanya tersisa satu jadwal yaitu jam 11 siang. Akhirnya ya sudah saya ambil saja jadwal tersebut, toh sekalian penasaran seperti apa filmnya.

Yang membuat saya semakin penasaran sebenarnya bukan hanya karena Iqbal Ramadhan yang menjadi salah satu pemeran utama, tetapi juga karena konsep film ini yang mengambil latar langsung dari sebuah festival musik yang memang sangat ramai. Jadi saya penasaran bagaimana sebuah festival sebesar Pestapora bisa dimasukkan ke dalam sebuah cerita film tentang komplotan copet.

Nah setelah selesai menonton, menurut saya film ini cukup cocok untuk kalian yang memang ingin menonton film dengan santai tanpa harus terlalu berpikir keras mengenai ceritanya. Tapi kalau kalian datang dengan ekspetasi ingin mendapatkan film kriminal yang tegang, penuh plot twist dan mempunyai kritik sosial yang sangat kuat, mungkin kalian akan sedikit kecewa.

Sinopsis Singkat: Operasi Pesta Copet

Film Operasi Pesta Copet bercerita mengenai sekelompok komplotan copet yang menjadikan keramaian festival musik sebagai lokasi operasi mereka.

Mereka melihat keramaian festival sebagai kesempatan untuk melakukan aksi pencopetan terbesar mereka. Masing-masing dari mereka juga mempunyai kebutuhan hidup masing-masing yang menjadi alasan kenapa mereka melakukan aksi tersebut.

Dan yang menarik dari film ini adalah lokasi festival yang digunakan bukan sekedar dibuat ulang menggunakan set atau CGI, tetapi memang mengambil lokasi langsung dari Pestapora.

Karena itu sepanjang film kita bisa melihat berbagai macam hal yang berhubungan dengan festival tersebut, termasuk beberapa penampilan dan hal-hal kecil yang menurut saya bisa menjadi semacam easter egg bagi orang-orang yang memang mengikuti Pestapora atau musik Indonesia.


POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Atmosfer Pestapora Yang Terasa Sangat Nyata

Menurut saya salah satu daya tarik terbesar dari film ini justru datang dari penggunaan lokasi Pestapora itu sendiri.

Karena memang festivalnya benar-benar terasa seperti festival musik yang sedang berlangsung. Keramaian penonton, panggung, orang-orang yang berlalu lalang sampai berbagai macam band yang muncul membuat film ini terasa lebih hidup.

Buat saya ini merupakan salah satu kelebihan yang cukup besar.

Apalagi ketika melihat beberapa band atau musisi yang memang tampil di Pestapora, rasanya seperti sedang menonton dokumentasi dari festival tersebut tetapi kemudian dimasukkan ke dalam sebuah cerita film.

Bisa dibilang ada cukup banyak easter egg yang mungkin lebih bisa dinikmati oleh orang yang memang mengikuti Pestapora atau musik-musik Indonesia.

Jadi kalau kalian datang karena penasaran bagaimana Pestapora digunakan sebagai lokasi syuting film, menurut saya bagian ini cukup menarik untuk dilihat langsung di bioskop.

Pemilihan Pemain dan Akting Yang Natural

Untuk masalah pemain menurut saya juga cukup menarik.

Beberapa cast seperti Melodi, Silet dan Kristo Immanuel menurut saya mempunyai akting yang cukup natural. Ada beberapa adegan dimana saya merasa mereka tidak terlihat seperti sedang berakting di depan kamera.

Ini menjadi salah satu hal yang saya suka karena ketika sebuah film komedi mempunyai pemain yang terlalu terlihat sedang memainkan karakter, biasanya justru membuat adegannya terasa dibuat-buat.

Tapi di film ini ada beberapa bagian dimana interaksi antar pemain terasa cukup natural.

Iqbal Ramadhan sendiri juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini cukup menarik untuk ditonton, terutama bagi kalian yang memang sudah mengikuti film-film yang dibintangi oleh Iqbal.

Pengambilan Gambar Saat Adegan Mencopet

Nah ini salah satu bagian teknis yang menurut saya justru cukup bagus.

Ketika adegan pencopetan berlangsung, perpindahan gambar dari satu shot ke shot berikutnya menurut saya sangat smooth.

Kecepatan perpindahan kameranya juga membuat adegan pencopetan terlihat lebih menarik untuk diikuti.

Karena pada dasarnya adegan copet itu membutuhkan gerakan yang cepat, jadi kalau editing dan kameranya kurang bagus tentu adegannya bisa terlihat biasa saja.

Tapi menurut saya di bagian ini cukup berhasil membuat aksi pencopetan terasa lebih dinamis.

Walaupun dari sisi ceritanya sendiri tidak terlalu menegangkan, setidaknya secara visual adegan tersebut masih enak untuk ditonton.

Ceritanya Cukup Ringan

Kalau dari segi cerita menurut saya film ini sebenarnya sangat biasa.

Tidak terlalu banyak hal yang membuat saya merasa tegang atau penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tapi balik lagi, mungkin memang tujuan utama film ini bukan untuk memberikan pengalaman menonton film kriminal yang berat.

Film ini lebih terasa seperti film hiburan yang bisa kalian tonton dengan santai.

Jadi kalau kalian datang ke bioskop setelah capek bekerja atau hanya ingin menghabiskan waktu sambil menonton film yang ringan, menurut saya film ini masih cocok.

Tapi jangan datang dengan ekspetasi bahwa kalian akan mendapatkan cerita pencurian dengan ketegangan seperti film heist pada umumnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Operasi Pesta Copet

  • Kelebihan:

1. Penggunaan lokasi Pestapora sangat masif dan nyata

Ini menurut saya merupakan kelebihan terbesar dari film ini.

Penggunaan Pestapora sebagai latar membuat film terasa lebih hidup dan berbeda dari film komedi biasa.


2. Pemilihan pemain cukup cocok

Beberapa pemain seperti Melodi, Silet dan Kristo Immanuel menurut saya mempunyai akting yang natural sehingga interaksi antar karakternya terasa tidak terlalu dibuat-buat.


3. Pengambilan gambar adegan pencopetan bagus

Perpindahan kamera dan editing ketika adegan mencopet menurut saya cukup smooth dan membuat adegannya terlihat lebih dinamis.


4. Cocok untuk tontonan santai

Film ini tidak terlalu berat dan tidak membuat saya harus berpikir terlalu keras untuk memahami ceritanya.

Jadi memang lebih cocok untuk hiburan ringan.


  • Kekurangan


1. Kritik sosialnya kurang terasa

Ini salah satu hal yang cukup saya sayangkan.

Saya sempat melihat beberapa podcast atau pembahasan dimana Iqbal Ramadhan memberikan isyarat bahwa film ini juga mempunyai kritik sosial mengenai ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat.

Tapi setelah saya menonton filmnya sendiri, saya pribadi tidak terlalu merasakan kritik sosial tersebut.

Menurut saya justru aspek komedi dan hiburannya jauh lebih menonjol dibandingkan pesan sosialnya.

Mungkin pesan tersebut memang ada dan bisa ditafsirkan oleh sebagian penonton, tetapi untuk saya pribadi penyampaiannya masih kurang kuat.


2. Komedinya terlalu sering

Untuk komedinya menurut saya cukup subjektif.

Ada beberapa bagian yang memang membuat saya tertawa, tapi ada juga beberapa bagian yang menurut saya terasa terlalu dipaksakan.

Karena hampir setiap beberapa menit ada saja bagian yang mencoba memasukkan komedi, akhirnya ada beberapa joke yang menurut saya malah terasa kurang natural.

Tapi balik lagi, masalah lucu atau tidaknya sebuah komedi memang sangat subjektif. Bisa saja bagian yang menurut saya tidak terlalu lucu justru menjadi bagian favorit penonton lainnya.


3. Alurnya cukup standar

Menurut saya dari awal sampai akhir alurnya cukup mudah ditebak.

Tidak terlalu banyak kejutan besar atau plot twist yang membuat saya benar-benar kaget.

Kalau kalian terbiasa menonton film dengan cerita heist atau kriminal yang mempunyai banyak kejutan, mungkin kalian akan merasa bahwa film ini cukup sederhana.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja

Secara pribadi setelah selesai menonton Operasi Pesta Copet, saya merasa cukup santai.

Saya tidak merasa rugi menonton film ini karena memang dari awal saya juga tidak memasang ekspetasi terlalu tinggi. Saya lebih penasaran dengan bagaimana Pestapora digunakan sebagai lokasi syuting dan bagaimana festival tersebut dimasukkan ke dalam cerita.

Dan menurut saya bagian tersebut justru menjadi salah satu daya tarik terbesar film ini.

Tetapi kalau ditanya apakah saya akan menonton ulang film ini?

Mungkin tidak.

Bukan berarti filmnya jelek, tetapi menurut saya setelah sekali menonton sudah cukup. Ceritanya tidak memiliki terlalu banyak kejutan yang membuat saya ingin kembali menontonnya.

Kalau kalian adalah fans fanatik Iqbal Ramadhan, mungkin kalian bisa mencoba menonton film ini karena salah satu daya tariknya memang ada di jajaran pemainnya.

Tapi kalau kalian mencari film kriminal dengan nuansa ketegangan yang kuat, aksi pencurian yang menegangkan atau berharap mendapatkan plot twist yang mengejutkan, menurut saya film ini tidak terlalu menawarkan hal tersebut.

Untuk saya pribadi, Operasi Pesta Copet cukup sebagai tontonan santai sekali jalan.

Untuk skor IMDb sendiri saat saya melihatnya berada di 7,5/10, tetapi jumlah yang memberikan rating masih sangat sedikit yaitu sekitar 98 orang, jadi menurut saya angka tersebut masih belum bisa terlalu dijadikan patokan karena jumlah penilainya masih sangat kecil.